Tulisan saya kali ini cukup sederhana, tapi kurang lengkap rasanya jika saya tidak menulis tentang hal ini. Karena ini adalah rangkuman dari proses Pelaksanaan Pekerjaan Cor Beton pada Struktur sebuah Rumah, Gedung, atau bangunan lainnya, seperti Kantor, Ruko, dan sebagainya.

A.  Tahapan Pekerjaan Cor Beton pada Rumah 1 Lantai

Disini saya memaparkan jika Rumah tersebut menggunakan Pondasi Setempat. Pelaksanaan Pengecoran-nya dilakukan secara berurutan, sesuai dengan Gambar 1 dibawah ini.

1.  Pengecoran Tapak Pondasi (A), yang fungsi-nya memikul semua beban diatasnya, yaitu berat Struktur, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing.

2.  Pengecoran Kolom diatas Pondasi / Kolom dibawah Sloof (B), yang fungsi-nya menyalurkan semua beban diatas-nya ke Tapak Pondasi.

3.  Pengecoran Sloof (C), yang berfungsi sebagai Pondasi Menerus yang memikul berat Dinding, Kusen, Pintu, dan Jendela diatasnya. Juga sebagai Pengaku bagi semua Kolom dibawah Sloof (B)

4.  Pengecoran Kolom Praktis (D), yang biasanya dilakukan setelah pemasangan Dinding Rumah, yang bisa dibuat dari Batubata, Hebel, Batu Kapur, atau Batako. Fungsi Kolom Praktis ini adalah agar semua pasangan Dinding tersebut dapat berdiri kokoh dan tidak mengalami retak di kemudian hari.

5.  Pengecoran Ring Balok (E), dilakukan setelah semua pasangan Dinding Rumah dan pengecoran Kolom Praktis (D) selesai. Fungsi-nya adalah sebagai Pengaku bagi semua pasangan Dinding Rumah dan Kolom Praktis tersebut, juga sebagai Dudukan yang kokoh untuk pemasangan Rangka Kuda-kuda Atap.

(Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Rumah 1 Lantai)

B.  Tahapan Pekerjaan Cor Beton pada Rumah 2 Lantai

Disini saya memaparkan jika Rumah tersebut menggunakan Pondasi Setempat. Pelaksanaan Pengecoran-nya dilakukan secara berurutan, sesuai dengan Gambar 2 dibawah ini.

1.  Pengecoran Tapak Pondasi (A), yang fungsi-nya memikul semua beban Lantai 1 dan Lantai 2, yaitu berat Struktur, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing.

2.  Pengecoran Kolom diatas Pondasi / Kolom dibawah Sloof (B), yang fungsi-nya menyalurkan semua beban diatas-nya ke Tapak Pondasi.

3.  Pengecoran Sloof (C), yang berfungsi sebagai Pondasi Menerus yang memikul berat Dinding, Kusen, Pintu, dan Jendela, yang berada di Lantai 1. Juga sebagai Pengaku bagi semua Kolom dibawah Sloof (B)

4.  Pengecoran Kolom Lantai 1 (D), yang fungsi-nya memikul semua beban pada Lantai 2, yaitu Balok Beton, Plat Lantai Beton, Kolom, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing di Lantai 2.

5.  Pengecoran Balok Beton Lantai 2, Plat Beton Lantai 2, dan Tangga Beton (E), yang biasanya dilakukan sekaligus pada waktu yang sama.

6.  Pengecoran Kolom Lantai 2 (F), yang dilakukan diatas Plat Beton Lantai 2 dan Balok Beton Lantai 2.

7.  Pengecoran Ring Balok (G), yang dilakukan setelah semua pasangan Dinding Rumah Lantai 2 dan pengecoran Kolom Lantai 2 (F) selesai. Fungsi-nya adalah sebagai Pengaku bagi semua pasangan Dinding Rumah dan Kolom Lantai 2 tersebut, juga sebagai Dudukan yang kokoh untuk pemasangan Rangka Kuda-kuda Atap.

(Gambar 2. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Rumah 2 Lantai)

Demikian tulisan sederhana saya kali ini.. Semoga bermanfaat..


Advertisement




Komentar :
Pada tulisan sebelumnya saya telah memaparkan bagaimana Cara Menghitung Jumlah Besi Tulangan Utama pada Sloof, dengan contoh Denah dan Detail Penulangan Sloof sama seperti Gambar 1 dibawah ini. Silahkan lihat tulisan tersebut DISINI..

Dengan menggunakan contoh Gambar Denah Pondasi dan Detail Tulangan Sloof yang sama, pada tulisan kali ini saya akan menyajikan bagaimana Cara Perhitungan Besi Sengkang (Begel)-nya.

Contoh Perhitungan :

Berdasarkan data Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini, hitung jumlah Besi Sengkang (Begel)-nya, jika menggunakan besi 8 yang panjangnya = 10 meter (memakai Besi 8x10m).

(Gambar 1.)

(Gambar 2. Detail Pemasangan Besi Sengkang / Begel)

Cara Perhitungan :

1.  Hitung terlebih dahulu semua Panjang Sloof pada Gambar 1 diatas (Ls).
Ls  =  (1,75 + 5,5 + 1 +1,75 + 3 + 2,5 + 3 + 2,5 + 3 + 1) + (1,5 + 8 + 3 + 8)
Ls  =  22 + 20,5 = 42,5 m (meter)

2.  Hitung Jumlah Total sengkang yang dibutuhkan (nt), berdasarkan Gambar 2 diatas dan Panjang Sloof (Ls).
a.  Jarak rata-rata Sengkang = (0,1m + 0,15m) / 2 = 0,125 m.
b.  Jumlah Sengkang yang dibutuhkan (nt) = 42,5m / 0,125m = 340 buah.

3.  Hitung Panjang Besi 8 yang dibutuhkan untuk membuat 1 buah Sengkang (Lb).
Lb  =  (24 + 24 + 14 + 14) + 7 cm = 83 cm = 0,83 m
Catatan: 7 cm adalah Panjang Besi yang dibutuhkan untuk membuat 2 Bengkokan dan 2 Kait Tulangan.

Ukuran Diameter Bengkokan, dan Kait Tulangan diatas saya buat berdasarkan kebiasaan di Lapangan.
Jika anda ingin menentukan ke-2 Variable tersebut berdasarkan SNI, silahkan dilihat nilainya dibawah ini:
Diameter Bengkokan - menurut SNI 2847-2013, lihat DISINI, dan
Kait Tulangan - menurut SNI 2847-2013, lihat DISINI.

4.  Hitung Jumlah Sengkang yang bisa diperoleh dari 1 batang Besi 8x10m (n).
n  =  (10m / 0,83m) = 12,05 buah = 12 buah.

5.  Hitung Jumlah Besi 8x10m yang dibutuhkan untuk membuat 340 buah Sengkang tersebut.
Besi 8x10m  dibutuhkan =  340 buah / 12 buah = 28,3 batang = 29 batang.

6.  Perhitungan selesai.. Semoga bermanfaat..


Advertisement




Komentar :
Pada artikel sebelumnya, saya telah menulis bagaimana Cara Menghitung Volume Beton Sloof pada sebuah Rumah. Dan pada kesempatan ini saya akan menulis bagaimana Cara Menghitung Jumlah Besi Tulangan Utama dan Besi Sengkang (Begel) pada Sloof tersebut.

Tapi untuk Perhitungan Besi Sengkang-nya (Begel) secara detail, silahkan dilihat pada Artikel Berikut ini. Karena terlalu panjang jika saya tuliskan juga disini.. Biar gak mumet bacanya..

Contoh Perhitungan:

Berdasarkan data Gambar 1 dibawah ini, hitung jumlah Besi Tulangan Sloof (Tulangan Utama), yaitu besi 14, dengan menggunakan Besi panjang = 10 meter (memakai Besi 14x10m).

(Gambar 1. Denah Pondasi - Sloof - dan Detail Tulangan Sloof)

A.  Perhitungan Cara Pertama :

1.  Perhatikan Gambar 1 diatas, fokus pada Bentang Sloof yang Panjang pada Denah tersebut, yaitu Bentang A = 8,25m (meter), B = 8m, C = 8m, D = 6,5m, dan E = 5,5m, seperti Gambar 2 dibawah ini.

Tujuannya adalah kita akan melakukan Perhitungan Tulangan Bentang Sloof yang Panjang terlebih dahulu, lalu Sisa Potongan-nya bisa digunakan untuk kebutuhan Bentang Sloof yang Pendek. 

(Gambar 2.)

2.  Perhitungkan juga kebutuhan Panjang Tulangan pada setiap Ujung Sloof, berdasarkan tebal Selimut Beton rencana, Diameter Bengkokan, dan Kait Tulangan, sesuai dengan Gambar 3 dibawah ini.

(Gambar 3.)

Dari Gambar 3 diatas, diketahui :
a.  Selimut Beton = 3cm, maka dibutuhkan Panjang Besi (Diluar As) = 7cm, pada setiap Ujung Sloof.
b.  Kebutuhan Besi untuk Diameter Bengkokan dan Kait Tulangan = 10cm, pada setiap Ujung Sloof.
c.  Penambahan Panjang Besi (dari As Denah Pondasi) pada setiap Ujung Sloof = 7cm + 10cm = 17cm.

Catatan Ukuran Selimut Beton, Diameter Bengkokan, dan Kait Tulangan diatas saya buat berdasarkan kebiasaan di Lapangan. Jika anda ingin menentukan ke-3 Variable tersebut berdasarkan SNI, silahkan dilihat nilainya dibawah ini:
Selimut Beton - menurut SNI 2847-2013, lihat DISINI
Diameter Bengkokan - menurut SNI 2847-2013, lihat DISINI, dan
Kait Tulangan - menurut SNI 2847-2013, lihat DISINI.

3.  Lakukan Perhitungan Kebutuhan Tulangan Utama pada Bentang Sloof yang Panjang A, B, C, D, dan E.

Bentang A = 8,25 m, butuh Besi 14 = 17cm + 8,25m + 17cm = 8,59 m, sebanyak 6 potong.
Bentang B = 8 m, butuh Besi 14 = 17cm + 8m + 17cm = 8,34 m, sebanyak 6 potong.
Bentang C = 8 m, butuh Besi 14 = 17cm + 8m + 17cm = 8,34 m, sebanyak 6 potong.
Bentang D = 6,5 m, butuh Besi 14 = 17cm + 6,5m + 17cm = 6,84 m, sebanyak 6 potong.
Bentang E = 5,5 m, butuh Besi 14 = 17cm + 5,5m + 17cm = 5,84 m, sebanyak 6 potong.
Besi 14 x 10m yang dibutuhkan = 6 batang x 5 bentang = 30 batang.

4.  Lakukan Perhitungan Besi Sisa Potongan (L) dari Sloof Bentang A, B, C, D, dan E.
Catatan: Panjang Besi Tulangan yang digunakan = 10 meter

L1 = 10m - 8,59m = 1,41 m, sebanyak = 6 potong (dari sisa potongan besi Sloof Bentang A)
L2 = 10m - 8,34m = 1,66 m, sebanyak = 6 potong (dari sisa potongan besi Sloof Bentang B)
L3 = 10m - 8,34m = 1,66 m, sebanyak = 6 potong (dari sisa potongan besi Sloof Bentang C)
L4 = 10m - 6,5m = 3,5 m, sebanyak = 6 potong (dari sisa potongan besi Sloof Bentang D)
L5 = 10m - 5,5m = 4,5 m, sebanyak = 6 potong (dari sisa potongan besi Sloof Bentang E)

5.  Lakukan Perhitungan Kebutuhan Tulangan Utama pada Bentang Sloof yang Pendek

a.  Bentang 3m = butuh Besi 14 = 17cm + 3m + 17cm = 3,34 m, sebanyak 6 potong.
Diambil dari potongan L5, jumlahnya cukup. Ada sisa potongan lagi, L6 = 1,16 m sebanyak = 6 potong.

b.  Bentang 3m = butuh Besi 14 = 17cm + 3m + 17cm = 3,34 m, sebanyak 6 potong.
Diambil dari potongan L4, jumlahnya cukup.

c.  Bentang 1,75m = butuh Besi 14 = 17cm + 1,75m + 17cm = 2,09 m, sebanyak 6 potong.
Diambil dari potongan L3 disambung dengan L2 = 1,66m + 1,66m = 3,32m.
Perhitungannya: 3,32m = (2,09m + Lsambungan), diperoleh Lsambungan = 1,23 m.
Jumlah batangnya juga cukup = 6 potong.

d.  Bentang 1,5m = butuh Besi 14 = 17cm + 1,5m + 17cm = 1,84 m, sebanyak 6 potong.
Diambil dari potongan L1 disambung dengan L6 = 1,41 + 1,16m = 2,57m 
Perhitungannya: 2,57m = (1,84m + Lsambungan), diperoleh Lsambungan = 73 cm.
Jumlah batangnya juga cukup = 6 potong.

6.  Penjumlahan dan Kesimpulan
a.  Jumlah Besi 14x 10m yang dibutuhkan = 30 batang.
b.  Kebutuhan Besi 14 untuk Bentang Sloof yang Pendek sudah terpenuhi semua oleh Besi Sisa Potongan (L) dari Bentang Sloof yang Panjang.
c.  Jika Panjang Besi untuk sambungan = 73 cm (point 5d) diputuskan tidak memadai panjangnya untuk dijadikan Lsambungan, maka diperlukan Besi Tulangan 14 x 10m = 1 batang lagi untuk Keperluan Sloof Bentang 1,5m tersebut. Sehingga Jumlah Besi Tulangan 14 x 10m yang dibutuhkan menjadi = 31 batang.

B.  Perhitungan Cara Kedua (Cara Cepat) :

1.  Jumlahkan semua Panjang Besi (Lbesi) yang dibutuhkan, termasuk untuk Bengkokan dan Kait Tulangan.
Lbesi  =  8,59 + 8,34 + 8,34 + 6,84 + 5,84 + 3,34 + 3,34 + 2,09 + 1,84
Lbesi  =  48,56 m

2.  Jumlah Besi 14x 10m yang dibutuhkan (net) = (48,56m x 6 batang) / 10m = 29,136 m.
Catatan: Sloof terdiri dari 6 batang Besi ⌀14. Panjang Besi 14 yang digunakan adalah = 10 meter (m).

3.  Jumlah Besi 14x 10m yang dibeli :
Jika ditambahkan 5%, maka Besi 14x 10m yang dibeli = 29,136m x 105% = 30,6 batang = 31 batang.
Jika ditambahkan 10%, maka Besi 14x 10m yang dibeli = 29,136m x 110% = 32 batang.
Catatan: Penambahan = 5% sampai 10% adalah Nilai Taksir, tergantung pada Efisiensi Panjang Besi yang digunakan terhadap semua panjang Bentang Sloof yang ada. Karena ada juga Besi yang panjangnya = 12 m.

Contoh Perhitungan selesai.. Semoga bermanfaat.. Untuk Menghitung Jumlah Besi Sengkang (Begel)-nya, silahkan dilihat DISINI..


Advertisement




Komentar :
Mungkin diantara kita sering melihat kejadian seperti ini, yaitu terjadinya Retakan (Celah) pada pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran disebelahnya. Seperti Gambar dibawah ini.

(Retak terjadi pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran)

Retak ini sebenarnya lumrah terjadi, penyebabnya karena 2 hal dibawah ini :

1.  Bahan Plesteran (Mortar yang terdiri dari Semen dan Pasir) bagaimanapun tidak akan bisa mengikat pada Kusen Kayu disebelahnya. Karena Semen yang biasa dipakai untuk Pasangan Bata dan Plesteran tidak memiliki karakteristik dapat merekatkan Pasir pada Kayu, tapi hanya bisa merekatkan sesama Material Pasir, Kerikil, Batubata, Batako, dan Produk lain yang terbuat dari Agregat.

2.  Retak terjadi karena adanya Penyusutan Volume pada Plesteran dan Kusen Kayu, sehingga Plesteran dan Kusen Kayu menjadi terpisah dan timbul celah diantaranya. Celah ini yang biasa kita sebut dengan Retakan.

Catatan:
Semakin besar Penyusutan Volume pada Kusen Kayu dan Plesteran, maka semakin besar pula Retakan (Celah) yang timbul, demikian pula sebaliknya.

Penyusutan Volume pada Kusen Kayu dan Plesteran ini juga lumrah terjadi, karena :

1.  Plesteran terdiri dari campuran Semen, Pasir, dan Air, yang dalam keadaan basah disebut Mortar. Setelah Mortar diaplikasikan menjadi sebuah Plesteran dan mengering, Kadar Air didalam Mortar akan hilang. Hal ini-lah yang membuat terjadinya Penyusutan Volume pada Plesteran tersebut. Semakin kering Plesteran tersebut, maka semakin besar Penyusutan yang terjadi. 

2.  Dalam pembuatan Kusen Kayu, bisa saja Produsen menggunakan bahan baku Kayu yang masih memiliki Kadar Air. Semakin tinggi Kadar Air awal bahan baku-nya, maka akan semakin tinggi pula Penyusutan Volume yang dialami Kusen Kayu tersebut nanti (setelah dipergunakan).

3.  Walaupun Kusen dibuat menggunakan bahan baku Kayu yang telah di-oven untuk menghilangkan Kadar Air-nya, belum tentu Kadar Air tersebut hilang seluruhya (hilang 100 %). Mungkin masih tersisa Kadar Air beberapa persen, yang akan benar-benar hilang setelah sekian lama terpasang pada Rumah.

Catatan:
Penyusutan terjadi karena berkurangnya Kadar Air, dan akan lebih besar terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang sering mendapat Sinar Matahari langsung, dan lebih kecil terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang tidak terkena Sinar Matahari langsung.

Apa dampak terjadinya Retak ini pada Rumah..? dan Bagaimana Cara Memperbaikinya..? Bisa dilihat DISINI.

Semoga tulisan ini bermanfaat..


Advertisement




Komentar :
Pada Rumah yang menggunakan Kusen Pintu dan Jendela yang terbuat dari Kayu, mungkin kita pernah melihat Plesteran di bagian tepi Kusen merenggang dari Kusen-nya, seperti membentuk sebuah retakan.

Jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian dalam Rumah, hal ini tidak begitu berdampak buruk. Namun jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian Dinding Luar rumah (yang akan terkena Air Hujan), maka hal bisa memiliki dampak lain, seperti terlihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 1. Celah Retak - pada Dinding Luar Rumah )

Kondisi Celah (Retak) seperti Gambar 1, akan menyebabkan Air Hujan bisa masuk melalui Celah tersebut ke bagian dalam Dinding Rumah, seperti Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2. Air Hujan Masuk ke Dinding dalam Rumah

Pada Gambar 2 jelas terlihat, terjadi kerusakan pada Cat Dinding dalam rumah. Hal ini disebabkan karena Air Hujan masuk dari Dinding Luar Rumah, yaitu melalui Celah Retak tersebut, lalu merusak Cat Dinding bagian dalam rumah. Bahkan bisa saja Air ini mengalir masuk kedalam Rumah, jika jumlahnya banyak.

Tentu saja Kondisi Dinding dalam Rumah seperti Gambar 2 diatas sangat tidak kita inginkan terjadi pada dinding Rumah kita. 

Cara Memperbaiki-nya adalah sebagai berikut :

1.  Perbesar terlebih dahulu Celah (Retak) Plesteran disekeliling Kusen Kayu pada Gambar 1 diatas, dengan menggunakan Pahat Batu. Dengan ukuran Lebar dan Dalam kira-kira = 0,5cm sampai 1cm. Lalu bersihkan Sisa Debu pada lubang dengan menggunakan Kuas. Seperti Gambar 3 dibawah ini.

2.  Pasang Kertas Lem pada bagian tepi Kusen Kayu, untuk melindungi Cat Kusen tersebut pada saat Pemberian Sealant. Menjadi seperti Gambar 3 dibawah ini.

(Gambar 3. Celah Retak pada Dinding Luar rumah yang telah dilebarkan)

3.  Persiapkan Sealant yang akan digunakan untuk mengisi Celah Retak yang telah dipahat tersebut. Sealant ini harus memiliki karakteristik "dapat merekat erat pada Kayu sekaligus pada Plesteran, dan material Sealant tersebut harus bisa di-cat".
Bisa menggunakan Sikaflex-11C atau Sikaflex-Construction, seperti Gambar 4 dibawah ini. 

(Gambar 4. Contoh Sealant yang dapat Merekat pada Permukaan Kayu dan Plesteran)

4.  Aplikasi-kan Sealant tersebut dengan menggunakan bantuan Sealant-Gun pada semua Celah Retak yang telah dilebarkan tersebut, seperti Gambar 5 dibawah ini. 

(Gambar 5. Pemberian Sealant pada Celah Retak yang telah dilebarkan)

5.  Rapikan semua Sealant agar rata dengan permukaan Dinding, dengan menggunakan Kape (Sekrap). Seperti Gambar 6 dibawah ini.

(Gambar 6. Sealant telah dirapikan dengan Kape atau Sekrap)

6.  Setelah semua permukaan Sealant rapi, segera lepaskan semua Kertas Lem yang menempel pada Kusen Kayu tersebut, sebelum Sealant tersebut kering. Kertas Lem akan lebih mudah dilepas, jika Sealant masih dalam keadaan Basah atau Setengah Kering.

7.  Tunggu beberapa Jam hingga Sealant benar-benar kering. Lalu lakukan Pengecatan agar dinding tersebut kembali rapi seperti semula. Seperti Gambar 7 dan Gambar 8 dibawah ini.

(Gambar 7 dan Gambar 8)

8.  Selesai..

Demikian tulisan kali ini.. Semoga bermanfaat.. Apa yang menyebabkan terjadinya Retak pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran..? Bisa dilihat DISINI..


Advertisement




Komentar :
Satuan curah hujan yang digunakan oleh BMKG adalah dalam mm (milimeter). Curah hujan adalah ketebalan air hujan yang terkumpul pada luasan 1 m2, yaitu tinggi air yang tertampung pada area seluas 1m x 1m alias 1 meter persegi (m2). Jadi, Curah Hujan 1 mm adalah jumlah air yang turun dari langit sebanyak 1 mm x 1m x 1m = 0,001 m3 = 1 liter.

Data Curah Hujan (Sumber BMKG) :
(Periode: tahun 1981 sampai 1990, tahun 1991 sampai 2000, dan tahun 2001 sampai 2010)

A.  Provinsi Bali
1.  Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Denpasar
2.  Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar

B.  Provinsi Nusa Tenggara Barat
1.  Stasiun Meteorologi Selaparang Mataram
2.  Stasiun Meteorologi Sumbawa Besar
3.  Stasiun Meteorologi Salahudin Bima

C.  Provinsi Nusa Tenggara Timur
1.  Stasiun Meteorologi Wai Oti Maumere
2.  Stasiun Meteorologi Mau Hau Waingapu
3.  Stasiun Meteorologi El Tari Kupang
4.  Stasiun Meteorologi Geyawantana Larantuka
5.  Stasiun Meteorologi Malikalabahi Alor
6.  Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang
7.  Stasiun Meteorologi Tardamu Sabu

D.  Provinsi Kalimantan Selatan
1.  Stasiun Klimatologi Banjar Baru Banjarmasin
2.  Stasiun Meteorologi Stagen Kotabaru
3.  Stasiun Meteorologi Syamsudin Moor Banjarmasin

E.  Provinsi Kalimantan Tengah
1.  Stasiun Meteorologi Iskandar Pangkalan Bun

F.  Provinsi Kalimantan Timur
1.  Stasiun Meteorologi Kalimarau Tanjung Redep
2.  Stasiun Meteorologi Sepinggan Balikpapan
3.  Stasiun Meteorologi Termindung Samarinda

G.  Provinsi Kalimantan Utara
1.  Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan

H.  Provinsi Sulawesi Utara
1.  Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado
2.  Stasiun Klimatologi Kayuwatu Manado
3.  Stasiun Maritim Bitung Manado

I.  Provinsi Sulawesi Selatan
1.  Stasiun Meteorologi Naha Tahuna
2.  Stasiun Meteorologi Andi Jemma Masamba
3.  Stasiun Meteorologi Pongitiku Tana Toraja
4.  Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar
5.  Stasiun Maritim Paotere Makassar
6.  Stasiun Klimatologi Maros Makassar
7.  Stasiun Meteorologi Bato Ambari Baubau

J.  Provinsi Sulawesi Tengah
1.  Stasiun Meteorologi Talos Tolitoli
2.  Stasiun Meteorologi Mutiara Palu
3.  Stasiun Meteorologi Bubung Luwuk
4.  Stasiun Meteorologi Kasiguncu Poso

K.  Provinsi Sulawesi Barat
1.  Stasiun Meteorologi Majene

L.  Provinsi Gorontalo
1.  Stasiun Meteorologi Jalaluddin Gorontalo

M.  Provinsi Sulawesi Tenggara
1.  Stasiun Meteorologi Pamalaa Kolaka
2.  Stasiun Maritim Kendari

N. Provinsi Maluku
1.  Stasiun Meteorologi Dumatubun Tual Maluku
2.  Stasiun Klimatologi Kairatu Maluku
3.  Stasiun Meteorologi Amahai Maluku
4.  Stasiun Meteorologi Bandanaire Maluku

O.  Provinsi Papua
1.  Stasiun Klimatologi Genyem
2.  Stasiun Meteorologi Biak
3.  Stasiun Meteorologi Fakfak
4.  Stasiun Meteorologi Nabire
5.  Stasiun Meteorologi Timika
6.  Stasiun Meteorologi Tanah Merah
7.  Stasiun Meteorologi Merauke

Semoga bermanfaat.. Curah Hujan pada Kota di pulau Jawa dan Sumatera lihat DISINI..


Advertisement




Komentar :

Beberapa Pengertian yang harus diketahui :

Hujan adalah titik-titik Air di udara atau awan yang sudah terlalu berat karena kandungan airnya sudah sangat banyak, sehingga akan jatuh kembali ke permukaan bumi sebagai Hujan (presipitasi). Alat untuk mengukur curah hujan adalah Fluviometer.

Apakah Satuan curah hujan yang digunakan oleh BMKG?
Satuan curah hujan yang digunakan dalam mm (milimeter).

Apakah yang dimaksud dengan Curah Hujan?
Curah hujan merupakan ketebalan air hujan yang terkumpul pada luasan 1 m2.

Apakah arti angka curah hujan itu?
Curah hujan dihitung dengan satuan mm (milimeter), yaitu tinggi air yang tertampung pada area seluas 1m x 1m alias 1 meter persegi (m2).

Jadi, Curah Hujan 1 mm adalah jumlah air yang turun dari langit sebanyak 1 mm x 1m x 1m = 0,001 m3 = 1 liter.

Data Curah Hujan (Sumber BMKG) :
(Periode: tahun 1981 sampai 1990, tahun 1991 sampai 2000, dan tahun 2001 sampai 2010)

A.  Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
1.  Stasiun Meteorologi Cut Bau Sabang
2.  Stasiun Meteorologi Malikulsaleh Lhokseumawe
3.  Stasiun Meteorologi Blang Bintang Aceh
4.  Stasiun Meteorologi Meulaboh

B.  Provinsi Sumatera Utara
1.  Stasiun Klimatologi Sampali
2.  Stasiun Meteorologi Maritim Belawan
3.  Stasiun Meteorologi Polonia Medan
4.  Stasiun Meteorologi Tuntungan
5.  Stasiun Meteoroli Sibolga
6.  Stasiun Meteorologi Gunung Sitoli

C.  Provinsi Kepulauan Riau
1.  Stasiun Meteorologi Dabo Singkep
2.  Stasiun Meteorologi Tanjung Pinang
3.  Stasiun Meteorologi Tarempa

D.  Provinsi Riau
1.  Stasiun Meteorologi Simpang Tiga Pekanbaru
2.  Stasiun Meteorologi Japura Rengat

E.  Provinsi Sumatera Barat
1.  Stasiun Meteorologi Tabing
2.  Stasiun Klimatologi Sicincin

F.  Provinsi Jambi
1.  Stasiun Meteorologi Jambi
2.  Stasiun Meteorologi Depati Parbo Kerinci

G.  Provinsi Sumatera Selatan
1.  Stasiun Meteorologi SMB II Palembang
2.  Stasiun Klimatologi Kenten Palembang

H. Provinsi Bangka Belitung
1.  Stasiun Meteorologi Pangkal Pinang

I.  Provinsi Bengkulu
1.  Stasiun Meteorologi Buluh Tembang
2.  Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu
3.  Stasiun Klimatologi Pulau Baai
4.  Stasiun Geofisika Kepahiang

J.  Provinsi Lampung
1.  Stasiun Meteorologi Raden Inten

K.  Provinsi Banten
1.  Stasiun Klimatologi Pondok Betung
2.  Stasiun Geofisika Tangerang
3.  Stasiun Meteorologi Serang
4.  Stasiun Meteorologi Cengkareng
5.  Stasiun Meteorologi Curug

L.  Provinsi DKI Jakarta
1.  Stasiun Maritim Tanjung Priok
2.  Stasiun Meteorologi Halim

M.  Provinsi Jawa Barat
1.  Stasiun Geofisika Lembang
2.  Stasiun Meteorologi Citeko
3.  Stasiun Klimatologi Darmaga
4.  Stasiun Geofisika Bandung
5.  Stasiun Meteorologi Jatiwangi

N.  Provinsi Jawa Tengah
1.  Stasiun Meteorologi Tegal
2.  Stasiun Meteorologi Cilacap
3.  Stasiun Meteorologi Maritim Semarang
4.  Stasiun Meteorologi A.Yani Semarang

O.  Provinsi Jawa Timur
1.  Stasiun Meteorologi Juanda
2.  Stasiun Maritim Perak I
3.  Stasiun Maritim Perak II
4.  Stasiun Klimatologi Karangploso
5.  Stasiun Geofisika Tretes
6.  Stasiun Geofisika Karangkates
7.  Stasiun Meteorologi Kalianget
8.  Stasiun Geofisika Sawahan
9.  Stasiun Meteorologi Banyuwangi

Semoga bermanfaat.. Data Curah Hujan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT, Bali, dan Papua bisa dilihat DISINI..


Advertisement




Komentar :
Tangki Air Pendam terkadang disebut juga Tangki Air Tanam atau Heavyduty Tank atau Underground Tank. Kualitas jenis Tangki Air ini tentu saja lebih baik dari jenis Tangki Air Umum (Reguler) yang sering kita lihat dipasang di tempat-tempat terbuka, seperti di halaman Rumah, diatas Rumah, diatas Ruko, Gedung, Kantor, dan sebagainya.

Sesuai dengan namanya, pemasangan Tangki air ini dilakukan dibawah Tanah. Seperti Gambar 1 dibawah ini.

(Gambar 1. Underground Tank - Dipendam langsung)

Material Dinding Tangki Pendam (Heavyduty Tank) ini lebih tebal daripada Tangki Umum (General). Seperti terlihat pada Gambar 2 dan Gambar 3 dibawah ini, dengan Merk dan Pabrikan yang sama.

Tebal Dinding Tangki kapasitas 2000 liter, berdasarkan Gambar 2 dan Gambar 3 :
       Tangki Pendam (Heavyduty Tank) kapasitas 2000 liter, memiliki Tebal Dinding = 18 - 20 mm.
       Tangki Umum (General Tank) kapasitas 2000 liter, memiliki Tebal Dinding = 10 - 12 mm.

(Gambar 2. Spesifikasi Teknis Heavyduty Tank)

(Gambar 3. Spesifikasi Teknis Reguler Tank)

Cara Pasang Tangki Air Pendam ini ada 2, yaitu :

1.  Tangki bisa langsung dipendam didalam Tanah seperti Gambar 1 diatas.
Pada kondisi tersebut, Dinding Tangki langsung bersinggungan dan terjepit oleh Tanah disekelilingnya. Lantai dibawah Tangki harus dibuat kuat, agar mampu mendukung Tekanan Tangki dan Air didalamnya nanti. Sebaiknya Lantai ini dibuat dari Cor Beton.

2.  Tangki dipasang dalam sebuah Ruangan Bawah Tanah yang telah disediakan sebelumnya. Ruangan ini bisa dibuat seperti contoh Gambar 4 dibawah ini.
Pada kondisi ini Dinding Tangki tidak bersinggungan dan tidak terjepit oleh Tanah di sekelilingnya. Lantai dibawah Tangki juga harus dibuat kuat dan mampu mendukung Tekanan Tangki dan Air didalamnya nanti.

(Gambar 4. Underground Tank - didalam Ruangan Bawah Tanah)

Anda boleh saja memilih salah satu dari 2 Cara diatas. Tergantung dari Efisiensi Dana, Waktu, dan Kemudahan Pekerjaan yang anda inginkan. Namun mungkin kita sama-sama bisa menilai, bahwa Cara seperti Gambar 4 akan lebih baik hasilnya. Lebih baik dari segi Kerapian dan Kemudahan Maintenance (Perawatan) Tangki tersebut dan Material Installasinya. Dengan konsekuensi biaya menjadi lebih mahal.

Manfaat Memasang Tangki Air Pendam pada sebuah Rumah :

1.  Anda akan senantiasa memiliki Stok Air Bersih pada Tangki Air tersebut. Karena Air dari PDAM akan senantiasa mengisi Tangki Air tersebut, dan berhenti secara otomatis pada saat Permukaan Air mencapai Pelampung (Floating Valve) dan mengangkat Pelampung tersebut sehingga Kran pada Pelampung menjadi tertutup.

2.  Masuknya Air PDAM melalui Meteran Air ke dalam Tangki (yang mesti anda bayar) berjalan secara Normal, tanpa ada penyedotan secara langsung menggunakan Pompa Air. Karena proses penyedotan dilakukan terhadap Air PDAM yang telah terkumpul dalam Tangki Air tersebut.

3.  Masuknya Air PDAM kedalam Rumah bisa berjalan dengan lancar
Mesin Pompa Air akan menyedot Air didalam Tangki dan mengalirkannya ke dalam Rumah. Volume Air didalam Tangki yang disedot oleh Mesin Pompa ini senantiasa cukup untuk memenuhi Pipa Hisap, sehingga Air PDAM bisa masuk ke dalam Rumah dengan lancar.


Advertisement




Komentar :